Genosida Pembangunan Jalan Pos Daendels Beraspalkan darah dan Air Mata Rakyat Banten


GENOSIDA PEMBANGUNAN JALAN POS DAENDELS BERASPALKAN DARAH DAN AIR MATA RAKYAT BANTEN


PENDAHULUAN
Dari pemeriksaan yang cukup detail dan bercorak tuturan perjalanan ini, membiak sebuah ingatan yang satire, bahwa kita adalah bangsa yang kaya tapi lemah. Bangsa yang sejak lama bermental diperintah oleh bangsa-bangsa lain. Bangsa yang penguasanya lebih asik menumpuk-numpuk ambisi berkuasa daripada menggerai kesejahteraan bagi warganya (Toer, Pramoedya Ananta, 2005: 6).  Jalan yang dibangun atas luka genosida dan cucuran air mata yang telah menelan ratusan, ribuan bahkan jutaan jiwa. Genosida pembangunan jalan raya yang paling mengerikan beraspalkan darah dan air mata manusia-manusia republik Indonesia. . Daendels menerima dua tugas yang diberikan oleh Louis Napoleon, yang menjadi raja di negeri Belanda pada saat itu. Kedua tugas itu adalah: mempertahankan Pulau Jawa agar tidak jatuh ke tangan Inggris dan memperbaiki sistem administrasi negara di Jawa. Pembangunan jalan ini adalah proyek monumental Daendels, namun harus dibayar mahal dengan banyak pelanggaran hak-hak asasi manusia karena dikerjakan secara paksa tanpa imbalan atau kerja rodi. Ribuan penduduk Indonesia meninggal dalam kerja paksa ini. Pembangunan atas dasar kepentingan ekonomi, politik dan tanpa menghiraukan kesejahteraan rakyat, inilah eksploitasiAnyer- panarukan, jalan yang terbentang hampir 1100 km, hadir karena hasil kediktartoran Herman Williem Daendels yang sangat kejam mengekploitasi Negara kita. Pada awalnya, setiap 4,5 kilometer jalan ini didirikan pos penjagaan sebagai tempat perhentian dan penghubung pengiriman surat-surat. Tujuan pembangunan Jalan Raya Pos adalah memperlancar komunikasi antar daerah yang dikuasai Daendels di sepanjang Pulau Jawa dan sebagai benteng pertahanan di Pantai Utara Pulau Jawa. Karena itulah jalan ini pada awalnya disebut De Grote Postweg atau Jalan Raya Pos dari Anyer ke Panarukan . Anyer dijadikan titik km nol karena kota ini sudah di pola Daendels untuk mempermudahkan pengangkutan hasil bumi dari Banten menuju dua pelabuhan yaitu pelabuhan Merak dan Pelabuhan Ujung Kulon. Banten sendiri sudah dilokalisasi dalam segi hasil bumi oleh Daendels karena Banten subur dan kaya akan hasil buminya terutama rempah-rempah.
Dalam rangka realisasi kebijakannya itu, Daendels mewajibkan setiap penguasa pribumi untuk memobilisasi rakyat, dengan target pembuatan jalan sekian kilometer. Sadisnya, priyayi atau penguasa pribumi yang gagal mengerjakan proyek tersebut, termasuk para pekerjanya, dibunuh. Tak hanya itu, kepala mereka lalu digantung di pohon-pohon kiri-kanan ruas jalan. Gubernur Jenderal Daendels memang menakutkan, dia kejam, sadis dan tak kenal ampun. Karena banyaknya korban pada pembuatan jalan Batavia-Banten masih simpang siur, menurut beberapa sejarahwan, korban meninggal sekitar 15.000 orang dan banyak yang meninggal tanpa dikuburkan secara layak.
Walaupun demikian Daendels semakin keras menghadapi rakyat, dia tidak segan-segan memerintahkan tentaranya menembak mati rakyat yang lalai atau tidak mau bekerja dalam pembuatan jalan apapun alasannya. Dengan tangan besinya jalan itu diselesaikan hanya dalam waktu setahun saja (1808). Suatu prestasi yang luar biasa pada zamannya. Karena itulah nama Daendels dan Jalan Raya Pos dikenal dan mendunia hingga kini. Jalan itu kini telah berusia lebih dari 200 tahun, meski demikian sebagian besar jalan Daendels masih bisa digunakan. Bahkan jalan ini menjadi akses darat satu-satunya untuk menuju Anyer . Sejarah pun mencatat betapa kelamnya sejarah jalan ini.


DESKRIPSI KASUS

Kedatangan Daendels di pulau Jawa dilatar belakangi oleh posisi Belanda yang semakin terdesak oleh  kekuasaan Inggris yang mulai menguasai daratan Eropa. Ia datang ke bumi nusantara untuk  diangkat jadi Gubernur Jenderal Hindia oleh Lodewijk Napoleon pada 1808 untuk menyelamatkan Jawa, satu-satunya pulau besar yang belum dikuasai Inggris. Namun beberapa kali armada Inggris telah muncul di perairan utara laut Jawa bahkan di dekat Batavia. Daendels mendarat di Jawa pada 5 Januari 1808 di pelabuhan Anyer. Tetapi Anyer yang didarati Daendels bukanlah Anyer yang sekarang, pantai dan beberapa desa telah disapu habis oleh gelombang pasang letusan Krakatau pada 1883. Daendels dipilih sebagai penyelamat bagi negaranya karena memang ia adalah tokoh yang kontroversialIa juga digambarkan sebagai sosok yang berhati baja sekaligus berkepala dingin dan selalu memberikan ancaman serta menembak mati lawan berargumentasi. Belum lagi korupsi yang merajalela dari dalam, penyakit menahun persekongkolan antara para pejabat kulit putih dengan para pembesar Pribumi dalam memeras rakyat kecil. . Ia adalah seorang politikus Belanda sekaligus merupakan Gubernur-Jenderal Hindia Belanda yang ke-36. Ia memerintah antara tahun 1808  1811.
Jalan Raya Pos merupakan salah satu kebijakan yang dilaksanakan pada masa Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, maka dari itu jalan tersebut lebih dikenal sebagai jalan Daendels. Jalan sepanjang 1.000 km ini membentang dari utara pulau Jawa, dari Anyer sampai Panarukan selesai dan digunakan pada 1809. Jalan raya Daendels menjadi infrastruktur penting sejak 1809 sampai selamanya. Pada hakikatnya, jalan raya tersebut hanya untuk diperbaiki dan diperlebar sampai 7 meter bukan sepenuhnya membangun. Pada awalnya, setiap 5 kilometer jalan ini didirikan pos penjagaan sebagai tempat perhentian dan penghubung pengiriman surat-surat. Tujuan pembangunan Jalan Raya Pos adalah memperlancar komunikasi antar daerah yang dikuasai Daendels di sepanjang Pulau Jawa dan sebagai benteng pertahanan di Pantai Utara Pulau Jawa. Karena itulah jalan ini pada awalnya disebut De Grote Postweg atau Jalan Raya Pos dari Anyer ke Panarukan.
Jalan Raya Pos adalah salah satu wujud nyata dari kerja Rodi yang dilaksanakan oleh pihak Belanda. Pembuatan jalan ini memakan banyak korban jiwa para pekerja paksa yang digolongkan sebagai genosida. Mereka yang gagal dan tidak mau melakukan perintah Daendels maka tanpa ampun ia akan langsung dibunuh dan kepala mereka digantung di pucuk-pucuk pepohonan di kiri-kanan ruas jalan. Gubernur Jendral Daendels memang menakutkan. mengurai 39 kota yang berada dalam jalur Jalan Raya Pos, baik kota-kota besar seperti Batavia, Bandung, Semarang, Surabaya, maupun kota-kota kecil yang namanya jarang terdengar bagi masyarakat umum seperti Juwana, Porong, Bagil dan lain-lain
Disini saya akan menjelaskan salah satu tempat yang juga dilewati pembuatan Jalan Raya Pos Daendels, yakni kawasan Banten. Sepuluh kilometer ke barat Cilegon, Jalan Raya Pos sampai ke Banten Lama, bekas KeSultanan Banten. Di Banten ada teluk tempat singgah pelayaran kapal-kapal dari Eropa, sehingga tempat ini dinggap cukup strategis dibidang perdagangan. Jauh sebelum Daendels mendarat di Anyer, pada 1596 untuk pertama kali datang armada Belanda untuk berbelanja rempah (utamanya lada). Maka dari itu Di daerah tertentu, banyak rute khusus yang sengaja di bangun oleh Daendels pada masa itu terutama daerah pusat Kabupaten karena untuk mempermudah transportasi pengangkutan rempah-rempah keluar daerah tersebut. Banten merupakan tempat yang paling banyak memiliki cabang-cabang Jalan Deandels sebab Banten cukup banyak menghasilkan rempah-rempah. Anyer dijadikan titik km nol karena kota ini sudah di pola Daendels untuk mempermudahkan pengangkutan hasil bumi dari Banten menuju dua pelabuhan yaitu pelabuhan Merak dan Pelabuhan Ujung Kulon. Banten sendiri sudah dilokalisasi dalam segi hasil bumi oleh Daendels karena Banten Subur dan Kaya akan hasil buminya terutama rempah-rempah. Teluk Banten pada saat itu adalah Bandar Internasional yang ramai, sekaligus Banten  sendiri juga sebagai kerajaan Syiwais yang besar dan kuat serta membawahi sebagian Sumatra dan sebagian Kalimantan.
Sebenarnya Daendels melakukan intervensi terhadap kekuasaan keSultanan di Jawa, yakni: KeSultanan Banten, Cirebon (Kanoman dan Kasepuhan), Yogyakarta dan Surakarta (Vorstenlanden). Pada awalnya  Hubungan antara Daendels dan raja Banten bermula dari rencana pembuatan pelabuhan dan jalan raya di Ujung Kulon. Ribuan pekerja dikerahkan untuk membuat jalan dan pelabuhan itu. Namun sayang dalam pekerjaan ini nyatanya banyak terjadi  korban manusia baik yang berasal dari kalangan pribumi maupun dari kalangan orang Eropa. Hal ini terjadi karena struktur dan kontur tanah yang akan dibuat jalan banyak yang berupa rawa-rawa. Maka dari itu, untuk melanjutkan proyek itu Daendels meminta kepada Sultan Banten saat itu, untuk menyediakan tenaga baru dari Banten. Sultan Banten menolak permintaan itu mengingat banyaknya korban yang sakit dan mati karena penyakit. Daendels tidak bisa menerima alasan tersebut, kemudian mengirimkan utusannya yang bernama Komandan Du Puy untuk mendesak Sultan Banten agar bersedia mengirimkan rakyatnya. Pada saat Du Puy dipanggil oleh utusan Sultan agar datang menghadap ke Benteng Intan (Istana Sorosowan), Komandan Du Puy diserang oleh adipati Pangeran Wargadiraja hingga meninggal. Sultan dianggap mengetahui rencana pembunuhan itu dan tidak melakukan apa-apa, bahkan membiarkan para penyerang merusak mayat Du Puy, kemudian dengan sangat kejam menyeretnya menuju sungai dan menenggelamkannya. Kejadian ini juga menimpa para anggota militer Eropa dan pribumi yang menyertai Du Puy ke sana. Wakil pemerintah yang ditugaskan ikut menjaga Kraton yang bernama Kapten Kohl, pada malam sebelum pembunuhan itu dibuat mabuk, sehingga Sultan dianggap dengan bebas bisa membunuhnya esok harinya. Sultan tidak melakukan tindakan pencegahan sedikitpun. Keadaan ini membuat Daendels marah, sehingga ia memutuskan untuk menyerang Banten agar Sultan Banten bersedia mengirimkan rakyatnya. Pada akhirnya dengan berat hati Sultan Banten menyerah kepada Belanda. Kemudian ia dan diasingkan ke Ambon, sementara pemerintahan diserahkan kepada putra mahkota.
Inilah awal yang membuat Daendels pada tahun pertama jadi Gubernur Jenderal telah memporak porandakan kekuasaan Sultan Banten dan menyita bagian bagian tertentu wilayahnya. Ia curiga jika Banten telah main mata dengan Inggris sebagaimana seperti kerajaan Palembang. Bukan suatu kebetulan bila Daendels memerintahkan pembangunan jalan Anyer-Batavia sebagai prioritas utama. Menurut cerita penduduk setempat, pada pembuatan jalan Daendels (kerja rodi) ini setiap jarak 25 meter di tanami pohon asem di pinggir badan jalan, itu dilakukan agar badan jalan yang telah di buat tetap terpelihara dan terjaga.
 Dengan adanya jalan ini secara teoritis tentaranya akan segera dapat didatangkan dari Batavia bila Inggris menyerbu. Setelah insiden tersebut maka dengan sangat “keras” Daendels mempekerjakan para rakyat dengan bawah kekuasaan pemerintah Hindia Belanda semenjak Sultan Banten menandatangani perjanjian dengan Belanda yang dilakukan oleh Sultan Safiuddin pada tanggal 28 Nopember 1808. Setelah penandatangan dan pengucapan sumpah pada tanggal itu, istana Sorosowan yang juga dikenal dengan istilah Benteng Intan dihancurkan Belanda sebagai hukuman atas meninggalnya pejabat tinggi negara dan pejabat rendah yang dibunuh oleh abdi dalem Sultan.
Proyek ambisius dan gila yang awalnya guna kepentingan militer dan jasa pos Belanda itu memang selesai dalam kurun waktu 1 tahun saja, sebuah prestasi yang luar biasa tapi dengan unsur penindasan dan kekejaman yang tiada taranya pula. Bayangkan saja, jika penguasa lokal dan rakyat di sepanjang proyek jalan itu, jika tidak memenuhi target proyek yang dibebankan, kepalanya akan di mutilasi dan digantung seperti buah kedondong di pinggir jalan. Sebuah shock teraphy efektif yang berakibat jalan itu selesai sesuai rencana. Kerja rodinya pun tidak kalah mengerikan. Dengan peralatan seadanya mereka harus membabat hutan atau membelah gunung. Meninggal karena kelaparan, siksasan dan penyakit sudah menjadi pemandangan sehari-hari para pekerja. Banyaknya korban pada pembuatan jalan Batavia-Banten masih simpang siur, menurut beberapa sejarawan Indonesia, yang meninggal sekitar 15.000 orang dan banyak yang meningal tampa dikuburkan secara layak. Walaupun demikian Daendels semakin keras menghadapi rakyat, ia tidak segan-segan memerintahkan tentaranya menembak mati rakyat yang lalai atau tidak mau bekerja dalam pembuatan jalan bagaimanapun alasan mereka,


ANALISIS
            Dari serangkaian kejadian saat pembangunan Jalan Raya Pos Daendels seperti yang dijelaskan diatas ada bentuk hierarki penguasaan antara pihak penjajah dan pibumi. Materialism historis adalah nama yang cukup tepat bagi anggapan-anggapan dasar teori yang ditungkanya. Secara tradisional diasumsikan, bahwa tekanan yang diberikan oleh Marx terletak pada kebutuhan materiil dan perjuangan kelas akibat usaha pemenuhan kebutuhan tersebut (Purwanto, 2007: 131). Suatu kontradiksi yang berkembang dalam masyarakat enggan adanya pebagian kerja dan kepemilikan pribadi adalah terjadinya pertentangan kepentingan antar kelas. Kelas tersebut ditunjukkan dengan kepemilikan alat produksi. Perubahan yang paling nyata adalah pembagian kedalam kelas-kelas sosial, yakni kelas yang menguasai dan dikuasai. Dapat dilihat dari kasus diatas bahwa bangsa Indonesia sendiri diposisikan sebagai kaum subordinat, artinya kita ditempatkan sebagai Negara jajahan yang dikuasai oleh kaum Eropa yang berkedudukan sebagai kaum superordinat. Disini terdapat konflik kepentingan dimana bangsa Eropa ingin mengeksploitasi Indonesia dengan segala kekuatan yang mereka punya, sedangkan bangsa Indonesia selalu gencar melakukan resistensi demi terciptanya keadilan dan pemebbasan diri dari bentuk penjajahan.  
Teori konflik yang berlaku atas konflik ini adalah Ralp Dahrendorf, teori Dahrendorf merupakan separuh penerimaan, separuh penolakan, serta modifikasi teori konflik Marx. Karl Marx berpendapat bahwa kontrol sarana produksi berada dalam satu individu yang sama. Dahrendorf menolah asumsi ini dengan alasan telah terjadi perubahan drastis dalam masyarakat, yaitu antara masa dimana Marx menyampaikan teorinya dengan masa Dahrendrorf. Dapat dilihat bahwa kaum prolentar hanya mampu menerima desakan dari kaum borjuis meskipun dalam hatinya terus saja memberontak. Setiap resistensi yang mereka lakukan masih saja terus terkalahkan karena memang posisi mereka yang subordinat, mereka memiliki kekuasaan yang sempit untuk membebaskan diri dari belenggu penjajah. Pada dasarnya pemikiran mereka telah di konstruksi oleh kaum penguasa bahwasanya jika mereka menurut atas perintah mereka maka akan ada “bagian” yang mereka terima.
               Max Weber berpendapat konflik timbul dari stratifikasi sosial dalam masyarakat. Setiap stratifikasi adalah posisi yang pantas diperjuangkan oleh manusia dan kelompoknya. Weber berpendapat bahwa relasi-relasi yang timbul adalah usaha-usaha untuk memperoleh posisi tinggi dalam masyarakat. Weber menekankan arti penting power (kekuasaan)  dalam setiap tipe hubungan sosial. Power (kekuasaan) merupakan generator dinamika sosial yang mana individu dan kelompok dimobilisasi atau memobilisasi. Pada saat bersamaan power (kekuasaan) menjadi sumber dari konflik, dan dalam kebanyakan kasus terjadi kombinasi kepentingan dari setiap struktur sosial sehingga menciptakan dinamika konflik. Dinamika konflik ini juga diperjelas dengan adanya beda kepentingan antara sang penguasa dan rakyat Indonesia yang sedang di kuasai.
Dalam kasus inipun dapat kita lihat dari perspektif hukum deskriminatif. Hukum yang diskriminatif ini dibagi atas Adaptation (adaptasi), Goal (tujuan), Integration (integrasi) dan Latency (pemeliharaan pola). Hukum diskriminatif cenderung  tidak netral dalam pelaksanaannya dan hanya menguntungkan salah satu pihak. Adaptasi disini dapat dilihat dimana bangsa Belanda datang di Indonesia dan mulai melihat, mempelajari lalu beradaptasi dengan bangsa Indonesia agar tau apa saja yang menjadi kebiasaan masyarakat. Seperti halnya Belanda saat pertama kali di Banten, ia melihat Banten sebagai wilayah perdagangan yang sangat maju dengan komoditas ladanya yang melimpah, maka ia memanfaatkan itu sebagai barang rampasan yang mereka timbun untuk kebutuhan mereka sendiri atau bahkan mereka menjualnya dinegaranya sendiri dengan harga yang jauh lebih mahal. Goal atau tujuan, tujuan mereka tentulah sangat jelas, yakni ingin mengekploitasi dan menguasai Banten, dengan segala daya dan upaya akan terus mereka tempuh. Hubungan yang mereka jalin hanya sebatas kebutuhan dari masing-masing penguasa. Bentuk integrasi (integration) yang terjalin adalah rakyat yang begitu tunduk kepada penguasa  Dari pola pola hubungan mereka inilah yang disebut dengan latency  
Marx menempatkan ideologi sebagai keseluruhan ide yang dominan dan diusung oleh sebuah masyarakat sebagai kelompok sosial dalam bingkai superstruktur masyarakat. Teori Ideologi ini dikondisikan oleh bingkai atau batas ekonomi dan menjadi semacam refleksi atas bingkai itu. Dengan demikian kaum borjuis yang semakin menanjak telah menentukan pemikiran-pemikiran tentang kebebasan, hak asasi manusia, kesetaraan dihadapan hukum (hak) dalam bingkai pergulatan menghadapi orde atau tatanan lama. Mereka ini cenderung memidahkan apa yang menjadi ekpresi kepentingan kelasnya menjadi nilai-nilai yang universal. Kaum borjuis dengan kepemilikan kekuasaan mutlak telah mengkonstruksi masyarakat Banten dengan janji akan memberikan feedback atas perbaikan jalan ini, namun sayang hal itu hanya isapan jempol semata. Rakyat yang hanya menjadi alat untuk ekploitasi tak mendapatkan apapun atas kerja kerasnya itu, justru setiap perlawanan yang mereka lakukan sama hal nya ia menyerahkan lehernya diatas pedang Daendels yang dengan mudahnya ia libas.

KESIMPULAN

Herman Willem Daendels atau di Indonesia lebih dikenal dengan nama Daendels, adalah nama seorang Gubernur Jenderal Belanda yang pernah memerintah di bumi kita tercinta ini antara tahun 1808 dan 1811. Berdasarkan buku-buku sejarah, Gubernur Jenderal Daendels dikenal sebagai seorang diktator yang sangat kejam, tidak berperikemanusiaan, dan selalu menindas rakyat demi keuntungan pemerintah Kolonial Belanda dan pribadinya. Sebelum meninggalkan negeri Belanda menuju Jawa, Daendels menerima dua tugas yang diberikan oleh Louis Napoleon, yang menjadi raja di negeri Belanda pada saat itu. Kedua tugas itu adalah: mempertahankan Pulau Jawa agar tidak jatuh ke tangan Inggris dan memperbaiki sistem administrasi negara di Jawa.
Pada tahun 1808-1809 Daendels mulai pembuatan jalan dengan rute Batavia-Banten tahap pertama, pada saat itu rakyat masih mau menghimpun kekuatan untuk melaksanakan perintah paksa Daendles, namun setelah terjangitnya penyakit malaria dan banyak yang tewas, maka rakyat menghentikan bantuannya. Karena banyaknya korban pada pembuatan jalan Batavia-Banten masih simpang siur, menurut beberapa sejarahwan Indonesia, yang meninggal sekitar 15.000 orang dan banyak yang meningal tampa dikuburkan secara layak. Walaupun demikian Daendels semakin keras menghadapi rakyat, ia tidak segan-segan memerintahkan tentaranya menembak mati rakyat yang lalai atau tidak mau bekerja dalam pembuatan jalan apapun alasannya. Sementara itu ada yang beranggapan jalan Daendels dibuat untuk jalur pos atau Jalan Pos Raya (Grote Postweq), namun pada kenyataannya jalan Daendels dibangun  sebagai siasat untuk memperlancar jalur ekonomi, politik dan pemerintahan. Jadi yang dikatakan jalan pos disini maksudnya adalah sebagai sentral untuk pemerintahan agar sistim birokrasi pola pikirnya sampai kebawah. Jalan yang dibangun atas luka genosida dan cucuran air mata yang telah menelan ratusan, ribuan bahkan jutaan jiwa. Genosida pembangunan jalan raya yang paling mengerikan beraspalkan darah dan air mata manusia-manusia republik Indonesia. Sejarah masa lalu menjadi cermin masa kini untuk melangkah ke masa depan menemukan kebaikannya untuk diikuti, dan mengenali kesalahannya untuk tidak diulangi.

DAFTAR PUSTAKA

Purwanto. 2007. Sosiologi untuk Pemula. Media Wacana. Yogyakarta
Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Pustaka Pelajar: Yogyakarta

Toer, Pramoedya Ananta. 2005. Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Lentera Dipantara. Jakarta

Komentar