PEMIMPIN
DAN KEPEMIMPINAN
Bagi
setiap elemen organisasi yang memerlukan kerjasama antar-manusia menyadari
bahwa pokok permasalahan utama dalam tubuh keanggotaan adalah mengenai
kepemimpinan. Peran pemimpin sangat diperlukan guna meningkatkan efisiensi
kerja. Untuk merealisasikan berbagai macam usaha kegiatan manusia ini,
diperlukan upaya yang terencana dan sistematis untuk melatih dan mempersiapkan
pemimpin-pemimpin baru.
Kebanyakan
dari kita mendapat pengertian tentang kepemimpinan dengan melihat orang lain
melaksanakan kepemimpinan dan mendengarkan pemikiran-pemikiran mereka (Keating,
1986:9). Namun, tiap organisasi yang memerlukan kerjasama antar-manusia
menyadari, bahwa masalah yang utama ialah masalah kepemimpinan. Kepada masalah
ini perhatian belum cukup dicurahkan. Kita melihat perkembangan dari
kepemimpinan pra-ilmiah kepada kepemimpinan yang ilmiah (Wiraputra, 1973:9).
Dalam
tingkat pra-ilmiah kepemimpinan itu didasarkan atas pengalaman, intuisi, dan
kecakapan praktis. Kepemimpinan itu dipandang sebagai pembawaan seseorang,
sebagai anugerah Tuhan. Maka dari itu dicarilah orang yang mempunyai
sifat-sifat istimewa yang dipandang sebagai syarat suksesnya seorang pemimpin.
Dalam
tingkatan ilmiah, kepemimpinan dipandang sebagai suatu fungsi dan bukan sebagai
kedudukan atau pembawaan pribadi seseorang. Hasil penyelidikan menjelaskan
bahwa terdapat perubahan dalam konsepsi mengenai sifat kepemimpinan. Terbukti
dalam banyak kesempatan dan situasi, bahwa kelompok dapat bekerja dengan lebih
efisien dan kooperatif, bila fungsi pimpinan terbagi antara banyak anggota.
Setiap orang dapat menyumbangkan tenaga dan pikiran sesuai dengan kemampuan
masing-masing dalam mengejar cita-cita bersama. Hasil penyelidikan yang lain
adalah kesadaran, bahwa kelompok merupakan organisasi yang tumbuh dan dinamis
dimana setiap perkembangannya memerlukan pemimpin yang berbeda. Diperlukan
bantuan untuk menetapkan tujuan, mengatur tugas pekerjaan, mengkoordinasikan
usaha tiap anggota dan menghindarkan penyimpangan-penyimpangan.
G.R Terry mengemukakan sejumlah teori tentang kepemimpinan yaitu teori
sendiri ditambah dengan teori-teori penulis lain antar lain sebagai berikut:
1)
Teori Otokrasi
dan Pemimpin Otokrasi
Otokrat (dari autos= sendiri; kratos= kekuasaan,
kekuatan)= penguasa absolute. Kepemimpinan menurut teori ini didasarkan atas
perintah-perintah dan pemaksaan, juga tindakan-tindakan yang arbitrer (sebagai
wasit) sifatnya. Ia melakukan pengawasan yang ketat agar semua pekerjaan
berlangsung secara efisien. Pada intinya otokrat keras memiliki sifat-sifat:
tepat, seksama dan sesuai dengan prinsip, namun keras dan kaku; tidak pernah
dia mau mendelegasikan otoritas.
2)
Teori Psikologis
Menurut teori ini fungsi pemimpin adalah mengembangkan
sistem motivasi terbaik, untuk merangsang kesediaan bekerja para pengikut dan
anak buah.
3)
Teori Sosiologis
Kepemimpinan dianggap sebagai usaha-usaha untuk
melancarkan antar relasi dalam organisasi, dan sebagai usaha untuk menyelesaikan
setiap konflik organisatoris antara para pengikutnya. Pemimpin menetapkan
tujuan-tujuan dengan menyertakan para pengikut dalam pengambilan keputusan.
4)
Teori Suportif
Pemimpin menciptakan suatu lingkungan kerja yang
membantu memperterbal keinginan setiap pengikutnya untuk melaksanakan pekerjaan
sebaik mungkin, sanggup bekerjasama dengan pihak lain, mau mengembangkan skillnya. Ada pihak yang menamakan teori
partisipatif dan teori kepemimpinan demokratis.
5)
Teori Laissez Faire
Kepemimpinan jenis ini sebenarnya adalah gambaran
pemimpin yang tidak becus mengurus dan dia menyerahkan semua tanggung jawab
serta pekerjaan kepada bawahan atau semua anggotanya. Dia tidak mampu
mengkoordinasikan semua kerja dan tidak berdaya mengkoordinasikan semua kerja
yang kooperatif. Sehingga kelompok tersebut praktis tidak terbimbang dan tidak
terkontrol.
6)
Teori Kelakuan
Pribadi
Teori ini menyatakan, bahwa seorang pemimpin itu
selalu berkelakuan kurang lebih sama, yaitu tidak melakukan tindakan-tindakan
yang identik sama dalam setiap situasi yang dihadapi.
7)
Teori Sifat
Ada beberapa ciri-ciri unggul yang diharapkan dimiliki
oleh seorang pemimpin yaitu memiliki intelegensi tinggi, banyak inisiatif,
energik, memiliki kedewasaan emosional, memilki daya persuasive, mempunyai ketrampilan,
komunikatif, memiliki kepercayaan diri, peka, kreatif, memberikan partisipasi
sosial yang tinggi dan lain lain.
8)
Teori Situasi
Teori ini menjelaskan, bahwa harus terdapat daya
lenting yang tinggi atau fleksibilitas pada pemimpin untuk menyesuaikan diri
terhadap berbagai tuntutan situasi dan zamannya. Maka kepemimpinan harus
bersifat “multi-dimensional”, agar mampu menyesuaikan diri terhadap
situasi-situasi yang cepat berubah.
Konsepsi
baru tentang kepemimpinan melahirkan peranan baru yang harus dimainkan oleh
seorang pemimpin. Fungsi utama seorang pemimpin adalah membantu kelompok untuk
belajar memutukan dan berkerja secara lebih efisien. Dalam peranannya sebagai
pelatih seorang pemimpin dapat memberikan bentuan-bantuan yang khas.
1.
Pemimpin membantu
akan terciptanya suatu iklim sosial yang baik. Sikap yang baik ini akan
menumbuhkan iklim, dimana kelompok akan mencapai kepribadian kelompok yang
dewasa dan demokratis dengan pembagian tanggung jawab yang seimbang.
2.
Pemimpin
membantu kelompok untuk mengorganisasikan diri. Seorang pemimpin berusaha agar
para anggota bekerjasama, baik dalam perencanaan, maupun dalam pelaksanaannya
dengan menetapkan tugas kelompok da kewajiban tiap-tiap anggota.
3.
Pemimpin
membantu kelompok dalam menetapkan prosedur-prosedur kerja. Efisiensi kerja
memerlukan prosedur yang tepat. Karena itu pemimpin harus membantu kelompok
dalam menganalisa situasiuntuk kemudian menetapkan prosedur mana yang paling
praktis dan efisien.
4.
Pemimpin yang
bertanggung jawab dalam mengambil keputusan bersama dengan kelompok.
5.
Pemimpin memberi
kesempatan kepada kelompok untuk belajar dari pengalaman.
Dalam dunia yang kompleks seperti sekarang ini banyak
pekerjaan yang tidak dapat kita kerjakan seorang diri. Kelompok diharapkan
dapat mencapai apa yang kita inginkan secara perorangan. Pemimpin yang
bijaksana dan demokratis memberi kesempatan kepada kelompok untuk berkembang
secara individual maupun secara kolektif. Dalam tugas-tugas kepemimpinan
tercakup pula beberapa azas-azas yang harus dipenuhi. Azas-azas kepemimpinan
yang baik ialah kemanusiaan, efisiensi, serta kesejahteraan dan kebahagiaan
yang lebih merata.
Dalam melaksanakan tugas, kepemimpinan (leadership
function) meliputi dua bidang utama, yakni pekerjaan yang harus
diselesaikan dan kekompakan orang-orang yang dipimpinnya. Tugas yang
berhubungan dengan pekerjaan disebut task
function, berperan agar pekerjaan
dapat terselesaikan guna mencapai tujuannya. Tugas yang berhubungan dengan
kekompakan kelompok disebut relationship
function, tugas ini dibutuhkan agar hubungan antar orang yang bekerjasama
menyelesaikan kerja itu lancar dan enak jalannya. Tugas kepemimpinan yang berhubungan dengan kerja kelompok antara
lain: initiating, regulating, informing,
supporting, evaluating dan summarizing.
Sedangkan tugas kepemimpinan yang berhubungan dengan kekompakkan kelompok
dimulai dari encouraging, expressing
feeling, harmonizing, compromising, gatekeeping dan setting standards.
Dalam kenyataannya ada 3 poin penting untuk menjadi pemimpin. Pendekatan
yang pertama dianalisis berdasarkan dari kenyataan menunjukkan bahwa beberapa
orang memiliki kempuan yang super namun misterius yang dapat memengaruhi orang
lain. Namun bagaimanapun juga kita tak dapat menilai bahwa seorang pemimpin
melalui pendekatan watak pembawaan sama sekali. Ahli-ahli sosial cenderung
menganggap bahwa semuua orang memiliki derajat yang sama dan setiap orang
memiliki peluang yang sama untuk menjadi seorang pemimpin. Keberanian dan
wawasan yang luas menjadi salah satu kunci pokok yang harus juga dimiliki
seorang pemimpin. Setiap orang setuju bahwa seorang pemimpin perlu memiliki
pribadi yang mendasarkan pikiran sehat. Sebagian besar kaum pemimpin mempunyai
karakter yang berbeda beda satu sama lain. Cara pandang yang lebih baik adalah
dengan mengatakan bahwa karakter merupakan bagian dari pribadi yang nampaknya
berharga bagi kita secara moral.
Pendekatan yang kedua ini bertitik tolak pada situasi. Pada dasarnya, tidak
seorangpun yang dilahirkan sebagai seorang pemimpin, semua ini tergantung pada
situasi. Beberapa situasi menyebabkan timbulnya kepemimpinan dari seseorang.
Pendekatan menurut situasi ini selalu menyatakan bahwa situasilah yang
menentukan siapa yang muncul sebagai pemimpin dan tidak peduli pemimpin macam
apa pun, dia harus menyetujui. Sebagai seorang pemimpin haruslah memiliki
temperamen yang ramah, sifat-sifat kepribadian dan pengetahuan yang dibutuhkan
oleh segala situasi. Kemampuan teknis atau pengetahuan profesional adalah kunci
kewibawaan. Keahlian dalam pekerjaan yang khusus saja belum cukup, kecakapan
yang lebih umum juga dibutuhkan. Ini semua difokuskan pada kepemimpinan,
pengambilan keputusan dan komunikasi. Pengetahuan ini dapat ‘berpindah’, seperti
pindah dari satu situasi kesituasi yang lainnya.
Pendekatan yang ketiga dalam masalah kepemimpinan adalah kelompok atau
perkumpulan. Teori yang paling bermanfaat adalah bahwa mereka seperti juga
individu-individu yang lain, mempunyai suatu keunikan dan juga suatu sifat yang
umum. Dengan melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan dia membimbing kelompok
pokoknya untuk
-
Mencapai tugas
bersama
-
Bekerja sebagai
kelompok
-
Menghormati dan
mengembangkan masing-masing anggota
Pemuda
sebagai penerus warisan budaya leluhur memiliki peranan yang sangat penting
guna keberlangsungan sebuah bangsa
terutama dalam hal kepemimpinan. Pemuda Indonesia
dalam kiprahnya harus memertahankan dan menjaga kemerdekaan dengan hal-hal yang
positif. Namun hari ini, kemanakah perginya pionir-pionir perubahan? Bangsa
Indonesia seakan haus akan pendonor semangat yang mengabdikan diri guna
mengibarkan bendera semangat.
Di zaman kemajuan segala IPTEK dan sumber daya manusia, Indonesia justru
menunjukkan wajah kemunduran disegala sektor, terutama nilai keteladanan moral
anak bangsa dan krisis kepemimpinan. Padahal dengan modal banyaknya tunas bangsa, seharusnya mampu
menghasilkan bibit-bitit yang berkualitas. Namun sayang, semua itu masih saja
menjadi angan-angan semu bagi negara yang sudah 70 tahun merdeka ini.
Hal ini, tentu adalah sebuah cambukan keras
bagi para pemimpin bangsa ini. Sebagai pemimpin yang baik dan benar. Hal inilah
yang menjadi kegelisahan para kawula muda. Mereka tidak dapat menemukan sosok yang
teladan di dalam diri para pemimpin. Inilah generasi muda yang merasakan krisis
kepemimpinan. Dalam membangun bangsa di masa mendatang para pemuda harus memiliki jiwa
nasionalisme yang tinggi dengan diiringi semangat jiwa pancasila, selain itu
solidaritas di antara pemuda harus ditingkatkan karena dengan adanya
solidaritas tersebut maka akan menciptakn generasi muda yang kuat dan dapat
menghadapi, menangani, dan memecahkan masalah yang nantinya akan dihadapi
bangsa di masa mendatang.
Dengan adanya sosok figur teladan yang mewariskan sifat keteladanan bagi pemuda Indonesia di
masa kini, maka pemuda Indonesia menjadi pemuda yang dapat membangun negara
indonesia dengan penuh kemajuan dan kesejahteraan. Permasalahannya, adakah sosok figur yang
dapat dijadikan sebagai teladan bagi pemuda Indonesia dimasa kini?. Pemuda memiliki tiga peran utama dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara saat ini.
1.
Sebagai
generasi penerus yang secara teguh dan konsisten melanjutkan
perjuangan generasi sebelumnya.
2. Sebagai generasi pengganti untuk menggantikan para
generasi tua yang belum mampu mengemban amanat.
3.
sebagai generasi pembaharu yang
bersungguh-sungguh berjuang mewujudkan keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran
bangsa.
Konon, pemuda merupakan fase puncak dan terbaik
dari era perjalanan seorang anak manusia.pemuda bebas dari kelemahan masa
anak-anak dan masa tua secara fisik, pemikiran, dan ketegaran moral. Tidak
salah bila Taufik Abdullah (sejarawan Indonesia) mengatakan bahwa keberadaan
kaum muda bagi sebuah bangsa semata-mata bukanlah sebagai gejala demografis
(kependudukan). Kahadiran kaum ini merupakan fakta sosiologis dan historis.
Masih ingatkah kita bagaimana peranaan pemuda dalam perjalanan Indonesia tahun
1908, 1928, 1945, 1966, termasuk 1998? Tentu saja masih banyak peranan kaum
muda yang lain di luar tahun-tahun tersebut. Kaum muda memang dituntut
peranannya dalam perjalanan suatu negara. Oleh karena itu, pemimpin muda saat
ini dituntut memiliki rasa kepemimpinan yang holistik.
Pemikiran dan peranan pemimpin muda sangat
dibutuhkan dalam pemimpin bangsa. Menurut Mohammad Hatta, hal ini disebabkan
karena dari segi jiwa kaum muda masih begitu murni. Dirinya selalu ingin
melihat yang berpendidikan, biasa dididik berpikir secara ilmiah. Ilmu
tujuannya untuk mencari kebenaran. Sementara itu, membela kebenaran menjadi
tugas utama bagi orang yang menuntut ilmu. Pikiran yang diasah semacam itu akan
mendorong mereka bersikap kritis terhadap realitas dan yang bertentangan dengan
kebenaran. Bila Undang-Undang Dasar 1954 berdasar kepada demokrasi maka pikiran
yang kritis akan menolak hal-hal yang bertentangan demokrasi (seperti yang
terjadi pada masa akhir kekuasaan rezim Orde Baru).
Apa yang dikatakan oleh Mohammad Hatta, agaknya
merupakan ungkapan lain dari karakter muda. Karakter merupakan sifat kejiwaan
akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lainnya. Ada
anggapan bahwa kaum muda memiliki nilai lebih dalam hal karakter jika
dibandingkan dengan kaum tua. Di antara karakter-karakter yang dianggap sebagai
nilai lebih tersebut adalah:
1. keberanian yang
tinggi,
2. semangat inovasi
(pembaruan),
3. kreativitas,
4. idealitas yang
terjaga, dan
5. sportivitas pada kaum
muda.
Korupsi, Kolusi,
dan Nepotisme merupakan contoh kasus yang dilakukan oleh para pembesar negara dan masa inilah yang menyebabkan lunturnya
keteladanan bagi pemuda. Hal ini yang kita sebut sebagai krisis keteladanan
yang selanjutnya menyebabkan tidak adanya sosok yang dapat menjadi teladan di
kalangan pemuda masa kini. Hanya sosok Soekarno, Soekarno, dan Soekarno lainnya
yang mereka anggap sebagai teladan di negeri ini. Oleh karena tidak adanya karakter teladan
baik yang dimiliki oleh punggawa negeri di masa kini, mengakibatkan pecahnya
solidaritas di antara pemuda Indonesia. Pecahnya solidaritas ini dapat
menyebabkan pemuda menjadi amburadul,
yaitu pemuda yang tidak memiliki karakter untuk meneruskan perjuangan bangsa,
tidak berprinsip, dan tidak lagi memiliki keteladanan.
Karakter kepemimpinan ini tergantung pada dua
hal. Pertama, pemimpin yang memegang
kendali kebijakan sebuah organisasi, kelompok atau bangsa yang bertugas
mengonsolidasi dan menggerakkan bagian-bagian dari bangsa untuk meraih apa yang
diinginkan. Kedua,visi yang dibangun
oleh kepemimpinan yang dijanjika baik dalam pemilu, atau pada saat akan adanya
pemilihan pamimpin dalam bidang-bidang tertentu.
Selain itu, suatu kepemimpinan biasanya selalu
berbicara setidaknya tentang empat landasan. Empat landasan yng dimaksud
meliputi:
1.
visi,
2.
kepercayaan (trust),
3.
komunikasi, dan
4.
komitmen.
Setiap zaman memiliki situasi serta kondisi
sendiri-sendiri yang saling berbeda antara satu zaman dengan zaman lain
berikutnya. Keadaan selalu berkembang dan mengalami perubahan. Begitu pula
situasi dan kondisi yang menyertainya. Situasi serta kondisi zaman kebangkitan
nasional pada tahun 1908, tentu saja berbeda dengan situasi kondisi pada tahun
1945. Oleh karena itu, karakter pemimpin yang dibutuhkan masa kini yaitu :
1.
Peka terhadap perubahan secara umum
Pemimpin zaman
sekarang harus memiliki nilai kepemimpinan yang bervisi perubahan: dapat
melakukan sinergi positif antara antusiasme, energi, dan harapan, selalu
optimis dalam meraih tujuan, serta percaya diri tiggi.
2.
Peka terhadap perubahan intern bangsa sendiri
Peka terhadap
perubahan intern bangsa sendiri berarti memerhatikan dan selalu punya respon
terhadap masalah-masalah bangsa ini. Peka, berarti sangat sensitif, mudah
merasa, mudah bergerak, tidak mudah lalai, mudah meneruskan pengaruh dan
menerima, serta dan makna peka ini, buka berarti ikut arus.
3.
Mengakomodasi kesetaraan gender
Sebenarnya gender
dipergunakan untuk menunjukka pembagian kerja yang di angga tepat bagi
laki-laki dan perempuan. Gender sendiri secara bahasa berasal dari bahasa
Inggris dan berate jenis kelamin. Namun demikian dalam pengertian secara
khusus, gender berarti harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan.
4.
Bervisi multikulturalisme
Baik itu secara
demografis maupun sosiolologis, negeri kita tercinta Indonesia bermasyarakat
multikultural. Sederhananya istilah multikultural bisa diartikan sebgai “berkenaan dengan lebih
dari dua kebudayaan”. Bisa juga multikultural berarti sebuah masyarakat yang di
dalamnya terdapat keanekaragaman kehidupan budaya.
5.
Memimpin dengan bersih dan anti-KKN (Korupsi, Kolusi, dan
Nepotisme)
“Korupsi adalah
masalah paling besar yang kini dihadapi bangsa Indonesia. Korupsi lebuh dari
sekadar cacat moral. Korupsi telah menjadi semacam kanker yang menggerogoti
semua usaha serius bangsa untuk keluar dari keterpurukan. Jika korupsi tidak
ditindak, demokrasi yang telah dibangun akan gagal dan membuat negara dalam
bahaya.”(Frans 0agins-Suseno)
6.
Mengutamakan profesionalisme dalam kepemimpinan
Profesionalisme
berarti
penempatan seseorang berdasarkan kehliannya.
7.
Berani bermimpi dan mewujudkannya
Keberanian
kaum muda untuk bermimpi atau berangan-angan menjadi pemimpin di semua level
kehidupan bangsa adalah keharusan. Tanpa ada keberanian bermimpi, tidak akan
ada sesuatu yang akan terwujud sertaukup, sebagaimana tidur saja tidak cukup
orang tidur harus perlu bangun. Kalau seseorang terus-terusan tidur, yang
terjadi sebenarnya kematian. Berani mengatur langkah dan bertindak adalah tanda
keberanian untuk mewujudkan berbagai hal yang menjadi impiannya.
8.
Keharusan memiliki visi jauh ke depan
Kaum
muda perlu dengan tegas untuk tidak lagi memberikan ruang hanya sekadar
berdebat soal apakah bangsa ini mau dijadikan negara agamaatau nonagama. Kita
sudah harus memutuskan, bahwa Indonesia bukan negara dengan berdasarkan agama
tertentu. Oleh karena itu, siapapun yang melakukan kekerasan untuk mencapai
tujuan negara dengan dasar satu agama maka harus ditindak dengan tegas. Visi
jauh ke depan juga harus memberikan ruang kehidupan bagi keyakinan dan
ideologi.
9.
Keharusan memiliki jiwa nasionalisme dan kerakyatan
Nasionalisme
merupakan bagian dari sikap dan perasaan kita dalam hal kecintaan terhadap
tanah air. Bentuk atau perwujudan dari nasionalisme itu sendiri tentu saja
berbeda-beda dari waktu ke waktu. Tergantung kepada jenis-jenis tantangan yang
kita hadapi.
10.
Ketekunan dan kemandirian
Tekun
bisa diartikan sebagai sifat keras hati dan rajin dalam melakukan sesuatu.
Sefat tekun memang perlu dimiliki kaum muda yang banyak diharapkan menjadi
generasi penerus bangsa. Dengan sifat tekun kaum muda diharapkan akan menuai
hasil yang baik dan sukses dalam melakukan segalam sesuatu.
11.
Keharusan memiliki organisatoris yang andal
Bagi
seseorang yang memiliki jiwa organisatoris, dirinya
akan tahu bahwa untuk melakukan perubahan masyarakat dan bangsa tidak mungkin dilakukan
secara sendiri. Perubahan suatu masyarakat dan bangsa perlu dilakukan
bersama-sama dengan orang lain yang memiliki kesamaan dan kedekatan pandangan.
Jiwa seorang organisatoris akan memberikan kesadaran dan melakukan perjuangan
bersama untuk membela kesejahteraan masyarakat.
Dengan karakter-karakter tersebut,
diharapkan para pemimpin muda dapat selalu mengevaluasi diri agar dapat menjadi aktor utama dalam
mengembalikan jati diri bangsa. Walaupun memang karakter pemimpin di atas bisa
saja tidak disepakati, tetapi kita berharap memiliki pemimpin yang mampu
merangkul semua perbedaan bangsa ini dan memajukan bangsa ini demi
mengembalikan jati diri bangsa.
Dampak besar yang dapat timbul ketika pemuda di masa
kini telah kehilangan arah akibat
membahananya krisis keteladanan adalah bubrahnya
bumi pertiwi yaitu ketika pemuda masa kini yang nanitinya akan menjadi pemimpin
di masa mendatang tidak bervisi jelas,
tidak kritis, tidak fokus, dan tidak refleksif. Pemuda demikian yang menjadi
pemimpin di masa mendatang tidak hanya merusak solidaritas bibit-bibit generasi
penerus bangsa di kemudian hari, akan tetapi juga merusak dan menggugurkan solidaritas
di bumi tercinta ini.
DAFTAR PUSTAKA
Adair, John.
1985. Kepemimpinan yang Efektif. Dahara Press: Semarang
Kartono, Kartini.
1990. Pemimpin dan Kepemimpinan. CV
Rajawali: Jakarta
Keating, Charles J.
1986. Kepemimpinan Teori dan
Perkembangannya. Kanisius: Yogyakarta
Pujiastuti, Isna. 2011. Makalah PWC OIS 2011
Wiraputra, R.Iyeng. 1976. Beberapa Aspek dalam Kepemimpinan Pendidikan. Bhratara: Jakarta
Komentar
Posting Komentar