Pemimpin dan Kepemimpinan


PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN


            Bagi setiap elemen organisasi yang memerlukan kerjasama antar-manusia menyadari bahwa pokok permasalahan utama dalam tubuh keanggotaan adalah mengenai kepemimpinan. Peran pemimpin sangat diperlukan guna meningkatkan efisiensi kerja. Untuk merealisasikan berbagai macam usaha kegiatan manusia ini, diperlukan upaya yang terencana dan sistematis untuk melatih dan mempersiapkan pemimpin-pemimpin baru.
            Kebanyakan dari kita mendapat pengertian tentang kepemimpinan dengan melihat orang lain melaksanakan kepemimpinan dan mendengarkan pemikiran-pemikiran mereka (Keating, 1986:9). Namun, tiap organisasi yang memerlukan kerjasama antar-manusia menyadari, bahwa masalah yang utama ialah masalah kepemimpinan. Kepada masalah ini perhatian belum cukup dicurahkan. Kita melihat perkembangan dari kepemimpinan pra-ilmiah kepada kepemimpinan yang ilmiah (Wiraputra, 1973:9).
            Dalam tingkat pra-ilmiah kepemimpinan itu didasarkan atas pengalaman, intuisi, dan kecakapan praktis. Kepemimpinan itu dipandang sebagai pembawaan seseorang, sebagai anugerah Tuhan. Maka dari itu dicarilah orang yang mempunyai sifat-sifat istimewa yang dipandang sebagai syarat suksesnya seorang pemimpin.
            Dalam tingkatan ilmiah, kepemimpinan dipandang sebagai suatu fungsi dan bukan sebagai kedudukan atau pembawaan pribadi seseorang. Hasil penyelidikan menjelaskan bahwa terdapat perubahan dalam konsepsi mengenai sifat kepemimpinan. Terbukti dalam banyak kesempatan dan situasi, bahwa kelompok dapat bekerja dengan lebih efisien dan kooperatif, bila fungsi pimpinan terbagi antara banyak anggota. Setiap orang dapat menyumbangkan tenaga dan pikiran sesuai dengan kemampuan masing-masing dalam mengejar cita-cita bersama. Hasil penyelidikan yang lain adalah kesadaran, bahwa kelompok merupakan organisasi yang tumbuh dan dinamis dimana setiap perkembangannya memerlukan pemimpin yang berbeda. Diperlukan bantuan untuk menetapkan tujuan, mengatur tugas pekerjaan, mengkoordinasikan usaha tiap anggota dan menghindarkan penyimpangan-penyimpangan.
G.R Terry mengemukakan sejumlah teori tentang kepemimpinan yaitu teori sendiri ditambah dengan teori-teori penulis lain antar lain sebagai berikut:
1)      Teori Otokrasi dan Pemimpin Otokrasi
Otokrat (dari autos= sendiri; kratos= kekuasaan, kekuatan)= penguasa absolute. Kepemimpinan menurut teori ini didasarkan atas perintah-perintah dan pemaksaan, juga tindakan-tindakan yang arbitrer (sebagai wasit) sifatnya. Ia melakukan pengawasan yang ketat agar semua pekerjaan berlangsung secara efisien. Pada intinya otokrat keras memiliki sifat-sifat: tepat, seksama dan sesuai dengan prinsip, namun keras dan kaku; tidak pernah dia mau mendelegasikan otoritas.
2)      Teori Psikologis
Menurut teori ini fungsi pemimpin adalah mengembangkan sistem motivasi terbaik, untuk merangsang kesediaan bekerja para pengikut dan anak buah.
3)      Teori Sosiologis
Kepemimpinan dianggap sebagai usaha-usaha untuk melancarkan antar relasi dalam organisasi, dan sebagai usaha untuk menyelesaikan setiap konflik organisatoris antara para pengikutnya. Pemimpin menetapkan tujuan-tujuan dengan menyertakan para pengikut dalam pengambilan keputusan.
4)      Teori Suportif
Pemimpin menciptakan suatu lingkungan kerja yang membantu memperterbal keinginan setiap pengikutnya untuk melaksanakan pekerjaan sebaik mungkin, sanggup bekerjasama dengan pihak lain, mau mengembangkan skillnya. Ada pihak yang menamakan teori partisipatif dan teori kepemimpinan demokratis.
5)      Teori Laissez Faire
Kepemimpinan jenis ini sebenarnya adalah gambaran pemimpin yang tidak becus mengurus dan dia menyerahkan semua tanggung jawab serta pekerjaan kepada bawahan atau semua anggotanya. Dia tidak mampu mengkoordinasikan semua kerja dan tidak berdaya mengkoordinasikan semua kerja yang kooperatif. Sehingga kelompok tersebut praktis tidak terbimbang dan tidak terkontrol.
6)      Teori Kelakuan Pribadi
Teori ini menyatakan, bahwa seorang pemimpin itu selalu berkelakuan kurang lebih sama, yaitu tidak melakukan tindakan-tindakan yang identik sama dalam setiap situasi yang dihadapi.
7)      Teori Sifat
Ada beberapa ciri-ciri unggul yang diharapkan dimiliki oleh seorang pemimpin yaitu memiliki intelegensi tinggi, banyak inisiatif, energik, memiliki kedewasaan emosional, memilki daya persuasive, mempunyai ketrampilan, komunikatif, memiliki kepercayaan diri, peka, kreatif, memberikan partisipasi sosial yang tinggi dan lain lain.
8)      Teori Situasi
Teori ini menjelaskan, bahwa harus terdapat daya lenting yang tinggi atau fleksibilitas pada pemimpin untuk menyesuaikan diri terhadap berbagai tuntutan situasi dan zamannya. Maka kepemimpinan harus bersifat “multi-dimensional”, agar mampu menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi yang cepat berubah.
            Konsepsi baru tentang kepemimpinan melahirkan peranan baru yang harus dimainkan oleh seorang pemimpin. Fungsi utama seorang pemimpin adalah membantu kelompok untuk belajar memutukan dan berkerja secara lebih efisien. Dalam peranannya sebagai pelatih seorang pemimpin dapat memberikan bentuan-bantuan yang khas.
1.      Pemimpin membantu akan terciptanya suatu iklim sosial yang baik. Sikap yang baik ini akan menumbuhkan iklim, dimana kelompok akan mencapai kepribadian kelompok yang dewasa dan demokratis dengan pembagian tanggung jawab yang seimbang.
2.      Pemimpin membantu kelompok untuk mengorganisasikan diri. Seorang pemimpin berusaha agar para anggota bekerjasama, baik dalam perencanaan, maupun dalam pelaksanaannya dengan menetapkan tugas kelompok da kewajiban tiap-tiap anggota.
3.      Pemimpin membantu kelompok dalam menetapkan prosedur-prosedur kerja. Efisiensi kerja memerlukan prosedur yang tepat. Karena itu pemimpin harus membantu kelompok dalam menganalisa situasiuntuk kemudian menetapkan prosedur mana yang paling praktis dan efisien.
4.      Pemimpin yang bertanggung jawab dalam mengambil keputusan bersama dengan kelompok.
5.      Pemimpin memberi kesempatan kepada kelompok untuk belajar dari pengalaman.
Dalam dunia yang kompleks seperti sekarang ini banyak pekerjaan yang tidak dapat kita kerjakan seorang diri. Kelompok diharapkan dapat mencapai apa yang kita inginkan secara perorangan. Pemimpin yang bijaksana dan demokratis memberi kesempatan kepada kelompok untuk berkembang secara individual maupun secara kolektif. Dalam tugas-tugas kepemimpinan tercakup pula beberapa azas-azas yang harus dipenuhi. Azas-azas kepemimpinan yang baik ialah kemanusiaan, efisiensi, serta kesejahteraan dan kebahagiaan yang lebih merata.
Dalam melaksanakan tugas, kepemimpinan (leadership function) meliputi dua bidang utama, yakni pekerjaan yang harus diselesaikan dan kekompakan orang-orang yang dipimpinnya. Tugas yang berhubungan dengan pekerjaan disebut task function, berperan agar pekerjaan dapat terselesaikan guna mencapai tujuannya. Tugas yang berhubungan dengan kekompakan kelompok disebut relationship function, tugas ini dibutuhkan agar hubungan antar orang yang bekerjasama menyelesaikan kerja itu lancar dan enak jalannya. Tugas kepemimpinan yang berhubungan dengan kerja kelompok antara lain: initiating, regulating, informing, supporting, evaluating dan summarizing. Sedangkan tugas kepemimpinan yang berhubungan dengan kekompakkan kelompok dimulai dari encouraging, expressing feeling, harmonizing, compromising, gatekeeping dan setting standards.
Dalam kenyataannya ada 3 poin penting untuk menjadi pemimpin. Pendekatan yang pertama dianalisis berdasarkan dari kenyataan menunjukkan bahwa beberapa orang memiliki kempuan yang super namun misterius yang dapat memengaruhi orang lain. Namun bagaimanapun juga kita tak dapat menilai bahwa seorang pemimpin melalui pendekatan watak pembawaan sama sekali. Ahli-ahli sosial cenderung menganggap bahwa semuua orang memiliki derajat yang sama dan setiap orang memiliki peluang yang sama untuk menjadi seorang pemimpin. Keberanian dan wawasan yang luas menjadi salah satu kunci pokok yang harus juga dimiliki seorang pemimpin. Setiap orang setuju bahwa seorang pemimpin perlu memiliki pribadi yang mendasarkan pikiran sehat. Sebagian besar kaum pemimpin mempunyai karakter yang berbeda beda satu sama lain. Cara pandang yang lebih baik adalah dengan mengatakan bahwa karakter merupakan bagian dari pribadi yang nampaknya berharga bagi kita secara moral.
Pendekatan yang kedua ini bertitik tolak pada situasi. Pada dasarnya, tidak seorangpun yang dilahirkan sebagai seorang pemimpin, semua ini tergantung pada situasi. Beberapa situasi menyebabkan timbulnya kepemimpinan dari seseorang. Pendekatan menurut situasi ini selalu menyatakan bahwa situasilah yang menentukan siapa yang muncul sebagai pemimpin dan tidak peduli pemimpin macam apa pun, dia harus menyetujui. Sebagai seorang pemimpin haruslah memiliki temperamen yang ramah, sifat-sifat kepribadian dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh segala situasi. Kemampuan teknis atau pengetahuan profesional adalah kunci kewibawaan. Keahlian dalam pekerjaan yang khusus saja belum cukup, kecakapan yang lebih umum juga dibutuhkan. Ini semua difokuskan pada kepemimpinan, pengambilan keputusan dan komunikasi. Pengetahuan ini dapat ‘berpindah’, seperti pindah dari satu situasi kesituasi yang lainnya.
Pendekatan yang ketiga dalam masalah kepemimpinan adalah kelompok atau perkumpulan. Teori yang paling bermanfaat adalah bahwa mereka seperti juga individu-individu yang lain, mempunyai suatu keunikan dan juga suatu sifat yang umum. Dengan melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan dia membimbing kelompok pokoknya untuk
-          Mencapai tugas bersama
-          Bekerja sebagai kelompok
-          Menghormati dan mengembangkan masing-masing anggota
Pemuda sebagai penerus warisan budaya leluhur memiliki peranan yang sangat penting guna keberlangsungan sebuah bangsa terutama dalam hal kepemimpinan. Pemuda Indonesia dalam kiprahnya harus memertahankan dan menjaga kemerdekaan dengan hal-hal yang positif. Namun hari ini, kemanakah perginya pionir-pionir perubahan? Bangsa Indonesia seakan haus akan pendonor semangat yang mengabdikan diri guna mengibarkan bendera semangat. Di zaman kemajuan segala IPTEK dan sumber daya manusia, Indonesia justru menunjukkan wajah kemunduran disegala sektor, terutama nilai keteladanan moral anak bangsa dan krisis kepemimpinan. Padahal dengan modal banyaknya tunas bangsa, seharusnya mampu menghasilkan bibit-bitit yang berkualitas. Namun sayang, semua itu masih saja menjadi angan-angan semu bagi negara yang sudah 70 tahun merdeka ini.
            Hal ini, tentu adalah sebuah cambukan keras bagi para pemimpin bangsa ini. Sebagai pemimpin yang baik dan benar. Hal inilah yang menjadi kegelisahan para kawula muda. Mereka tidak dapat menemukan sosok yang teladan di dalam diri para pemimpin. Inilah generasi muda yang merasakan krisis kepemimpinan. Dalam membangun bangsa di masa mendatang para pemuda harus memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi dengan diiringi semangat jiwa pancasila, selain itu solidaritas di antara pemuda harus ditingkatkan karena dengan adanya solidaritas tersebut maka akan menciptakn generasi muda yang kuat dan dapat menghadapi, menangani, dan memecahkan masalah yang nantinya akan dihadapi bangsa di masa mendatang.
Dengan adanya sosok figur teladan yang mewariskan  sifat keteladanan bagi pemuda Indonesia di masa kini, maka pemuda Indonesia menjadi pemuda yang dapat membangun negara indonesia dengan penuh kemajuan dan kesejahteraan. Permasalahannya, adakah sosok figur yang dapat dijadikan sebagai teladan bagi pemuda Indonesia dimasa kini?. Pemuda memiliki tiga peran utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini.
1.      Sebagai generasi penerus yang secara teguh dan konsisten  melanjutkan perjuangan generasi sebelumnya.
2.      Sebagai generasi pengganti untuk menggantikan para generasi tua yang belum mampu mengemban amanat.
3.      sebagai generasi pembaharu yang bersungguh-sungguh berjuang mewujudkan keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran bangsa.
            Konon, pemuda merupakan fase puncak dan terbaik dari era perjalanan seorang anak manusia.pemuda bebas dari kelemahan masa anak-anak dan masa tua secara fisik, pemikiran, dan ketegaran moral. Tidak salah bila Taufik Abdullah (sejarawan Indonesia) mengatakan bahwa keberadaan kaum muda bagi sebuah bangsa semata-mata bukanlah sebagai gejala demografis (kependudukan). Kahadiran kaum ini merupakan fakta sosiologis dan historis. Masih ingatkah kita bagaimana peranaan pemuda dalam perjalanan Indonesia tahun 1908, 1928, 1945, 1966, termasuk 1998? Tentu saja masih banyak peranan kaum muda yang lain di luar tahun-tahun tersebut. Kaum muda memang dituntut peranannya dalam perjalanan suatu negara. Oleh karena itu, pemimpin muda saat ini dituntut memiliki rasa kepemimpinan yang holistik.
Pemikiran dan peranan pemimpin muda sangat dibutuhkan dalam pemimpin bangsa. Menurut Mohammad Hatta, hal ini disebabkan karena dari segi jiwa kaum muda masih begitu murni. Dirinya selalu ingin melihat yang berpendidikan, biasa dididik berpikir secara ilmiah. Ilmu tujuannya untuk mencari kebenaran. Sementara itu, membela kebenaran menjadi tugas utama bagi orang yang menuntut ilmu. Pikiran yang diasah semacam itu akan mendorong mereka bersikap kritis terhadap realitas dan yang bertentangan dengan kebenaran. Bila Undang-Undang Dasar 1954 berdasar kepada demokrasi maka pikiran yang kritis akan menolak hal-hal yang bertentangan demokrasi (seperti yang terjadi pada masa akhir kekuasaan rezim Orde Baru).
Apa yang dikatakan oleh Mohammad Hatta, agaknya merupakan ungkapan lain dari karakter muda. Karakter merupakan sifat kejiwaan akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lainnya. Ada anggapan bahwa kaum muda memiliki nilai lebih dalam hal karakter jika dibandingkan dengan kaum tua. Di antara karakter-karakter yang dianggap sebagai nilai lebih tersebut adalah:
1.      keberanian yang tinggi,
2.      semangat inovasi (pembaruan),
3.      kreativitas,
4.      idealitas yang terjaga, dan
5.      sportivitas pada kaum muda.

 Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme merupakan contoh kasus yang dilakukan oleh para pembesar negara dan masa inilah yang menyebabkan lunturnya keteladanan bagi pemuda. Hal ini yang kita sebut sebagai krisis keteladanan yang selanjutnya menyebabkan tidak adanya sosok yang dapat menjadi teladan di kalangan pemuda masa kini. Hanya sosok Soekarno, Soekarno, dan Soekarno lainnya yang mereka anggap sebagai teladan di negeri ini. Oleh karena tidak adanya karakter teladan baik yang dimiliki oleh punggawa negeri di masa kini, mengakibatkan pecahnya solidaritas di antara pemuda Indonesia. Pecahnya solidaritas ini dapat menyebabkan pemuda menjadi amburadul, yaitu pemuda yang tidak memiliki karakter untuk meneruskan perjuangan bangsa, tidak berprinsip, dan tidak lagi memiliki keteladanan.
Karakter kepemimpinan ini tergantung pada dua hal. Pertama, pemimpin yang memegang kendali kebijakan sebuah organisasi, kelompok atau bangsa yang bertugas mengonsolidasi dan menggerakkan bagian-bagian dari bangsa untuk meraih apa yang diinginkan. Kedua,visi yang dibangun oleh kepemimpinan yang dijanjika baik dalam pemilu, atau pada saat akan adanya pemilihan pamimpin dalam bidang-bidang tertentu.
Selain itu, suatu kepemimpinan biasanya selalu berbicara setidaknya tentang empat landasan. Empat landasan yng dimaksud meliputi:
1.                  visi,
2.                  kepercayaan (trust),
3.                  komunikasi, dan
4.                  komitmen.

Setiap zaman memiliki situasi serta kondisi sendiri-sendiri yang saling berbeda antara satu zaman dengan zaman lain berikutnya. Keadaan selalu berkembang dan mengalami perubahan. Begitu pula situasi dan kondisi yang menyertainya. Situasi serta kondisi zaman kebangkitan nasional pada tahun 1908, tentu saja berbeda dengan situasi kondisi pada tahun 1945. Oleh karena itu, karakter pemimpin yang dibutuhkan masa kini yaitu :
1.                  Peka terhadap perubahan secara umum
            Pemimpin zaman sekarang harus memiliki nilai kepemimpinan yang bervisi perubahan: dapat melakukan sinergi positif antara antusiasme, energi, dan harapan, selalu optimis dalam meraih tujuan, serta percaya diri tiggi.
2.                  Peka terhadap perubahan intern bangsa sendiri
            Peka terhadap perubahan intern bangsa sendiri berarti memerhatikan dan selalu punya respon terhadap masalah-masalah bangsa ini. Peka, berarti sangat sensitif, mudah merasa, mudah bergerak, tidak mudah lalai, mudah meneruskan pengaruh dan menerima, serta dan makna peka ini, buka berarti ikut arus.
3.                  Mengakomodasi kesetaraan gender
            Sebenarnya gender dipergunakan untuk menunjukka pembagian kerja yang di angga tepat bagi laki-laki dan perempuan. Gender sendiri secara bahasa berasal dari bahasa Inggris dan berate jenis kelamin. Namun demikian dalam pengertian secara khusus, gender berarti harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan.
4.                  Bervisi multikulturalisme
            Baik itu secara demografis maupun sosiolologis, negeri kita tercinta Indonesia bermasyarakat multikultural. Sederhananya istilah multikultural  bisa diartikan sebgai “berkenaan dengan lebih dari dua kebudayaan”. Bisa juga multikultural berarti sebuah masyarakat yang di dalamnya terdapat keanekaragaman kehidupan budaya.
5.                  Memimpin dengan bersih dan anti-KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme)
            “Korupsi adalah masalah paling besar yang kini dihadapi bangsa Indonesia. Korupsi lebuh dari sekadar cacat moral. Korupsi telah menjadi semacam kanker yang menggerogoti semua usaha serius bangsa untuk keluar dari keterpurukan. Jika korupsi tidak ditindak, demokrasi yang telah dibangun akan gagal dan membuat negara dalam bahaya.”(Frans 0agins-Suseno)
6.                  Mengutamakan profesionalisme dalam kepemimpinan
            Profesionalisme berarti penempatan seseorang berdasarkan kehliannya.
7.                  Berani bermimpi dan mewujudkannya
            Keberanian kaum muda untuk bermimpi atau berangan-angan menjadi pemimpin di semua level kehidupan bangsa adalah keharusan. Tanpa ada keberanian bermimpi, tidak akan ada sesuatu yang akan terwujud sertaukup, sebagaimana tidur saja tidak cukup orang tidur harus perlu bangun. Kalau seseorang terus-terusan tidur, yang terjadi sebenarnya kematian. Berani mengatur langkah dan bertindak adalah tanda keberanian untuk mewujudkan berbagai hal yang menjadi impiannya.
8.                  Keharusan memiliki visi jauh ke depan
            Kaum muda perlu dengan tegas untuk tidak lagi memberikan ruang hanya sekadar berdebat soal apakah bangsa ini mau dijadikan negara agamaatau nonagama. Kita sudah harus memutuskan, bahwa Indonesia bukan negara dengan berdasarkan agama tertentu. Oleh karena itu, siapapun yang melakukan kekerasan untuk mencapai tujuan negara dengan dasar satu agama maka harus ditindak dengan tegas. Visi jauh ke depan juga harus memberikan ruang kehidupan bagi keyakinan dan ideologi.
9.                  Keharusan memiliki jiwa nasionalisme dan kerakyatan
            Nasionalisme merupakan bagian dari sikap dan perasaan kita dalam hal kecintaan terhadap tanah air. Bentuk atau perwujudan dari nasionalisme itu sendiri tentu saja berbeda-beda dari waktu ke waktu. Tergantung kepada jenis-jenis tantangan yang kita hadapi.
10.              Ketekunan dan kemandirian
            Tekun bisa diartikan sebagai sifat keras hati dan rajin dalam melakukan sesuatu. Sefat tekun memang perlu dimiliki kaum muda yang banyak diharapkan menjadi generasi penerus bangsa. Dengan sifat tekun kaum muda diharapkan akan menuai hasil yang baik dan sukses dalam melakukan segalam sesuatu.
11.              Keharusan memiliki organisatoris yang andal
            Bagi seseorang yang memiliki jiwa organisatoris, dirinya akan tahu bahwa untuk melakukan perubahan masyarakat dan bangsa tidak mungkin dilakukan secara sendiri. Perubahan suatu masyarakat dan bangsa perlu dilakukan bersama-sama dengan orang lain yang memiliki kesamaan dan kedekatan pandangan. Jiwa seorang organisatoris akan memberikan kesadaran dan melakukan perjuangan bersama untuk membela kesejahteraan masyarakat.
            Dengan karakter-karakter tersebut, diharapkan para pemimpin muda dapat selalu mengevaluasi diri agar dapat menjadi aktor utama dalam mengembalikan jati diri bangsa. Walaupun memang karakter pemimpin di atas bisa saja tidak disepakati, tetapi kita berharap memiliki pemimpin yang mampu merangkul semua perbedaan bangsa ini dan memajukan bangsa ini demi mengembalikan jati diri bangsa.
Dampak besar yang dapat timbul ketika pemuda di masa kini  telah kehilangan arah akibat membahananya krisis keteladanan adalah bubrahnya bumi pertiwi yaitu ketika pemuda masa kini yang nanitinya akan menjadi pemimpin di masa mendatang tidak bervisi  jelas, tidak kritis, tidak fokus, dan tidak refleksif. Pemuda demikian yang menjadi pemimpin di masa mendatang tidak hanya merusak solidaritas bibit-bibit generasi penerus bangsa di kemudian hari, akan tetapi juga merusak dan menggugurkan solidaritas di bumi tercinta ini.
DAFTAR PUSTAKA

Adair, John. 1985.  Kepemimpinan yang Efektif. Dahara Press: Semarang
Kartono, Kartini. 1990. Pemimpin dan Kepemimpinan. CV Rajawali: Jakarta
Keating, Charles J. 1986. Kepemimpinan Teori dan Perkembangannya. Kanisius: Yogyakarta
Pujiastuti, Isna. 2011. Makalah PWC OIS 2011
Wiraputra, R.Iyeng. 1976. Beberapa Aspek dalam Kepemimpinan Pendidikan. Bhratara: Jakarta

Komentar